Malam hari itu terasa dingin, kaki tangan seluruh badan
rasanya kaku sampai ke tulang-tulang. Sakit bekas sunnat masih terasa,
dikompres menggunakan air hangat yang dibuat oleh ibu. Tak pernah ku lupa
masa-masa itu, dimana aku yang kecil, manja, culun dan sangat polos. Subuh jam
5 pagi aku bangun dari kasur, dengan muka lecek aku langsung ke kamar mandi dan
ambil wudhu.
Melihat fajar aku terkejut begitu indahnya, dibelakang kamar mandi
tampak awan dan langit kuning kemerahan membentuk gunung dan taman-taman. Aku
terdiam sejenak, tiba-tiba ada yang menepuk dari belakang dan berkata
“Nak, ayo mandi dan siap-siap berangkat sekolah” dengan cepat
ternyata ibuk masuk ke dapur.
Pagi itu aku langsung bergegas untuk sekolah. Aku yang masih dibalut keranjang bekas untuk melindungi tit*t yang belum sembuh dari
sunnat untuk pergi ke sekolah. Disana lagi ada lomba cerdas cermat yang
merupakan kegiatan tahunan yang diadakan sekolah tiap akhir tahun. Ternyata aku
beruntung dan menang dilomba tersebut, dengan keranjang diperut aku di gendong
oleh seorang guru untuk naik keatas panggung. Dari kursi peserta keatas
panggung aku membayangkan apakah ini mimpi. Ternyata tidak ini kenyataan. Ditaman
kanak-kanak aku Cuma sekolah satu tahun atau sampai TK nol kecil bersama
temanku yang bernama susi. Aku tidak tahu kenapa itu terjadi, padahal sepuluh
temanku masih lanjut ke TK nol besar. Aku langsung diberi ijazah untuk lanjut
sekolah SD tanpa harus wisuda.
Hari sabtu dengan cuaca dingin kembali mendekap, malam itu
aku bermimpi masuk sekolah dan punya banyak teman baru.
Sebenarnya aku orang yang pemalu dan penyendiri susah untuk
adaptasi. Tetapi dimimpi itu aku jadi orang yang berbeda, sangat aktif, murah
senyum, dan suka bergaul sehingga punya banyak teman. Disana aku tertawa dengan
lawakan-lawakan anak-anak seperti “hei gendut, makan apa tadi pagi” ada yang
menanggapi “biasa makan nasi satu panci dan ayam goreng mati”. Terus “hei pintar, sudah hatam berapa buku tadi malam”
ada yang nyeletuk biasanya agak bodoh “dia itu kutu buku, pasti sudah habis
satu buku dalam satu menit, tapi dia makan bukan dibaca”.
Hari-hari begitu menyenangkan kalo punya teman baru yang
asik. Kadang kita ditraktir jajan, biasanya kalo ke kantin dia bilang ambil aja
yang kau mau, nanti aku yang bayar. Jadi kita bisa hemat uang jajan, tapi kita
harus juga mikirin gimana uang jajan temen kita, jangan asal iya aja.
Semua mimpi itu hanya terjadi saat tidur, saat kita sadar dan
terbangun harus terima kenyataan. Aku baru sadar saat temanku menyuruh untuk
mencuri jajan yang ada di kantin. Ini hanya mimpi, aku yang polos dan tidak
ahli dalam hal mencuri ketahuan sama penjaga kantin dan telingaku dijewer. Saat itu aku langsung kaget dan bangun dari
Kasur, baru ingat sekarang hari pertama masuk sekolah.
Jam sudah menunjuk pukul 06.30 WIB dan aku berangkat sekolah dianter
sama ibu, dan membawa tas spiderman warna biru. Tubuhku yang kecil tidak cocok
untuk sekolah SD. Tapi sebelum masuk SD aku sudah bisa membaca dan menulis,
katanya dulu aku sering corat-coret tembok dirumah dan membaca tulisan itu
sambil teriak-teriak. Aku yang pemalu masih takut untuk punya teman baru, baru
sampai sekolah aku duduk terus bersama ibu sampai bel berbunyi. Aku langsung
salim sungkem ke ibu dan langsung masuk kelas, aku duduk di bangku
paling belakang pojok kanan.
Pembicaraan mulai terjadi saat teman sebangku ngajak kenalan.
Aku langsung ingat mimpi yang kemarin, membayangkan jadi orang yang berbeda.
“hai, namaku zahri “ Tanya dia menjabat tanganku.
“halo zahri, namaku sulton” jawabku dengan muka tersenyum.
Aku harus bersikap baik didepan temanku, biar tidak canggung.
Zahri itu orangnya kecil sama kayak aku, rambutnya pirang dan sedikit pelontos.
Lama ngobrol akhirnya kita banyak tau diri kita masing-masing, kayak rumah,
dari TK mana, hobi, dan banyak lagi.
Ibu guru sudah masuk ke ruang kelas, tampak ramah dan baik
orangnya.
Beliau menyapa para murid dengan senyum “assalamualaikum anak-anak “
“waalaikumsalam bu guru” jawab teman-teman kompak.
Kayaknya ini mimpi, aku suruh zahri cubit pahaku dengan dua
jarinya. Ternyata sakit berarti ini bukan mimpi tapi kenyataan.
Hatiku senang sekali bisa punya banyak teman baru disekolah
yang baru. Semoga mimpiku bisa jadi kenyataan.
Dan kalian yang membaca ini
semoga cita-citanya terkabul , AMIIINNNN
Cerita ini akan berlanjut, ditunggu ya…..

Comments
Post a Comment