Jika mengerjakan sesuatu maka mendapat pahala, jika tidak
mengerjakan ya tidak apa-apa. Tapi kalo haram sesuatu yang tidak boleh
dikerjakan, jika dilanggar dosa. Sedangkan wajib sesuatu yang diperintahkan
untuk dikerjakan agar dapat pahala, dan jika dilanggar dosa. Jadi, Sunnah ada
ditengah-tengah antara wajib dan haram.
Waktu itu aku pulang dari sekolah taman kanak-kanak (TK)
didekat rumah. Dengan muka yang kusut karena uang jajan habis dibuat beli
hadiah undian. Jadi gak bisa beli makanan, aku Cuma ada uang jajan 500 rupiah.
Biasanya itu sudah bisa beli pentol dan permen yang membuat perut kenyang.
Sampai dirumah ternyata ada seseorang memakai baju putih dan
membawa benda kayak headset digantung di lehernya.
Ternyata dia adalah kak Herol
tetangga sebelah yang sudah jadi perawat. Dengan dahi dan alis mengkerut
ketengah aku tanya “ada apa Pak ?”
semua keluarga sedang kumpul diteras rumah.
“gak ada apa-apa kamu masuk sana cepat ganti baju” sahut Bapak
dengan santai
Aku langsung menaruh sepatu dan tas di lantai, dan masuk ke
dapur mencari makanan. Perut rasanya menjerit-jerit tolong-tolong lapar-lapar (dengan nada Coki pardede).
Aku buka pintu kulkas dan ternyata ada es lilin kesukaanku,
pasti ini ibu yang buat pikirku didalam hati. Rasanya sangatlah nikmat sekali
sungguh luar biasa, saat pulang sekolah langsung makan es lilin.
Tiba-tiba aku dipanggil oleh ibu keluar “Ton, sini nak !!!”
Dengan memegang es aku keluar dan duduk di kursi bersama kak
Herol.
Dia berkata “gimana, udah siap disunnat Ton?” dengan
pertanyaan tanpa basa-basi.
Aku anak kecil yang polos gak ngerti apa itu sunnat, akhirnya
karna penasaran aku tanya “apa itu sunnat?”
“sunnat adalah mengerjakan sesuatu agar dapat pahala” jawab
bapak yang sok bijak
“oke aku mau kalo itu dapat pahala” jawab aku cepat
Kata ibu “nanti kamu ajak kak ikbal juga ya dia pasti juga
mau !”. ikbal adalah kawanku dan dia juga sepupuku.
Hari sudah sangat panas, bayangan tepat berada dibawah kaki. Kak
herol si perawat tadi pun pulang ke rumahnya di selatan masjid dekat rumah.
Suara adzan baru saja berkumandang kitapun siap-siap untuk sholat ke masjid.
Selepas sholat aku pergi ke rumah kak ikbal untuk memberi kabar kalo nanti sore
mau ada sunnatan di rumahku.
“kak ikbal kabal kak ikbal !!!“ panggil aku dari kejauhan di rumah kak ikbal.
Dari depan teras ada Om Rahman, dia adalah bapaknya kak
ikbal,
menjawab “sini cong, ada apa teriak-teriak”. Cong adalah panggilan akrab orang Madura ke
yang lebih muda, missal dari paman ke ponakan.
“ini om nanti kata ibu di rumah ada sunnatan dan aku disuruh
ngajak kak ikbal” jawabku dengan polos
Om Rahman kaget “ hah sunnat ? kamu yakin mau sunnat nanti
sore?”
“Iya-iya om” jawabku cepat
“ya sudah sana panggil kakakmu di kamar lagi tidur paling”
kata om Rahman dengan nada pelan
Aku masuk ke kamar dan ternyata benar kak ikbal lagi tidur,
dan dia telanjang Cuma pake katok pendek.
Dengan Bahasa Madura aku bangunin kak ikbal “jhegheh-jhegeh siang la se ngakanna can
bapak en”.
Kak ikbal pun bangun dan kaget karna ada aku dikamarnya. “bede apa lek, mak bhuruna dennak yangsiang”.
Jawabku langsung “enjek ghun
ngabele’eh deghik bede sonnatdhen e roma”
Dia langsung ketakutan yang mukanya kisut ada bekas bantal di
pipi langsung lari keluar “tidak-tidak aku tidak mau sunnatttttt!!!”
Aku hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa. Tak lama
kemudian ada kak Apik adiknya kak Herol main ke rumah kak ikbal.
Saat aku dan kak ikbal masih asik bermain kelereng kak Apik
menghampiri kami “Bal, Ton, nanti jadi sunnat ?”
“iya – enggak” jawabku dan kak ikbal serempak
“loh gimana sih kok gak kompak, kak herol udah siapin
peralatan untuk sunnatan kalian” kata kak apik
Muka kak ikbal jadi semakin ketakutan, aku jadi heran kenapa
takut untuk sunnat padahal dapat pahala. Saking polosnya diri ini. Kak ikbal
pun mulai malas main karena kalah terus dan takut disunnat. Aku pun pulang ke
rumah.
Sekitar jam 3 sore, kak apik datang lagi ke rumah kak ikbal
untuk menjemputnya sunnatan di rumahku. Disana kak apik tidak menemukan kak
ikbal di kamar, di WC, di dapur dia menghilang saking takutnya. Akhirnya aku
juga ikut mencari, biasanya kalo main petak umpet dia sembunyi diatas pohon
manga dibelakang rumahnya. Ternyata memang benar dia ada diatas sambil
menangis. Aku pun memanggil kak apik untuk menyuruh dia turun. Tapi hasilnya
kak ikbal malah kabur dan disitu kita main kejar-kejaran. Semua kecapean,
akhirnya kak ikbal terangkap juga oleh bapaknya. Dia langsung dibawa ke
rumahku.
Sesampai di rumah semua orang berkumpul dan juga kak herol
sudah siap dengan baju putih dan gunting-gunting. Lalu ditanya oleh ibu siapa
yang mau sunnat duluan. “aku buk, ini toh sunnat baru tahu hehe” jawabku dengan
nada tinggi ke rendah.
Aku buka celana dan ahhhh rasanya sakittttttt kayak di gigit
ayam dan di patok semut. Wow itu salah satu momen
paling tak terlupakan dalam sejarah hidupku. Yang awalnya mikir sunnat itu enak
ternyata tidak cocokkkk tidak tidak tidak. Aku nangis sampai mata bengkak
seluruh badan diikat tidak bisa bergerak. Al hasil lama sekali sembuhnya. Tapi
yang aku seneng kak ikbal juga nangis haha rasain untung aku ajak dia.
Hikmahnya adalah untuk mengerjakan sesuatu kita perlu rasa senang terlebih
dahulu untuk hasilnya serahkan sama Tuhan. Yakin aja mengerjakan sesuatu yang
baik pasti dapat imbalan pahala meskipun itu tidak didunia.

Comments
Post a Comment