Skip to main content

Sunnah


Jika mengerjakan sesuatu maka mendapat pahala, jika tidak mengerjakan ya tidak apa-apa. Tapi kalo haram sesuatu yang tidak boleh dikerjakan, jika dilanggar dosa. Sedangkan wajib sesuatu yang diperintahkan untuk dikerjakan agar dapat pahala, dan jika dilanggar dosa. Jadi, Sunnah ada ditengah-tengah antara wajib dan haram.

Waktu itu aku pulang dari sekolah taman kanak-kanak (TK) didekat rumah. Dengan muka yang kusut karena uang jajan habis dibuat beli hadiah undian. Jadi gak bisa beli makanan, aku Cuma ada uang jajan 500 rupiah. Biasanya itu sudah bisa beli pentol dan permen yang membuat perut kenyang.
Sampai dirumah ternyata ada seseorang memakai baju putih dan membawa benda kayak headset digantung di lehernya. 
Ternyata dia adalah kak Herol tetangga sebelah yang sudah jadi perawat. Dengan dahi dan alis mengkerut ketengah aku tanya “ada apa Pak ?”
semua keluarga sedang kumpul diteras rumah.
“gak ada apa-apa kamu masuk sana cepat ganti baju” sahut Bapak dengan santai
Aku langsung menaruh sepatu dan tas di lantai, dan masuk ke dapur mencari makanan. Perut rasanya menjerit-jerit tolong-tolong lapar-lapar (dengan nada Coki pardede).
Aku buka pintu kulkas dan ternyata ada es lilin kesukaanku, pasti ini ibu yang buat pikirku didalam hati. Rasanya sangatlah nikmat sekali sungguh luar biasa, saat pulang sekolah langsung makan es lilin.
Tiba-tiba aku dipanggil oleh ibu keluar “Ton, sini nak !!!”
Dengan memegang es aku keluar dan duduk di kursi bersama kak Herol. 
Dia berkata “gimana, udah siap disunnat Ton?” dengan pertanyaan tanpa basa-basi.
Aku anak kecil yang polos gak ngerti apa itu sunnat, akhirnya karna penasaran aku tanya “apa itu sunnat?”
“sunnat adalah mengerjakan sesuatu agar dapat pahala” jawab bapak yang sok bijak
“oke aku mau kalo itu dapat pahala” jawab aku cepat
Kata ibu “nanti kamu ajak kak ikbal juga ya dia pasti juga mau !”. ikbal adalah kawanku dan dia juga sepupuku.
Hari sudah sangat panas, bayangan tepat berada dibawah kaki. Kak herol si perawat tadi pun pulang ke rumahnya di selatan masjid dekat rumah. Suara adzan baru saja berkumandang kitapun siap-siap untuk sholat ke masjid. Selepas sholat aku pergi ke rumah kak ikbal untuk memberi kabar kalo nanti sore mau ada sunnatan di rumahku.

“kak ikbal kabal kak ikbal !!!“  panggil aku dari kejauhan di rumah kak ikbal.
Dari depan teras ada Om Rahman, dia adalah bapaknya kak ikbal,
menjawab “sini cong, ada apa teriak-teriak”. Cong adalah panggilan akrab orang Madura ke yang lebih muda, missal dari paman ke ponakan.
“ini om nanti kata ibu di rumah ada sunnatan dan aku disuruh ngajak kak ikbal” jawabku dengan polos
Om Rahman kaget “ hah sunnat ? kamu yakin mau sunnat nanti sore?”
“Iya-iya om” jawabku cepat
“ya sudah sana panggil kakakmu di kamar lagi tidur paling” kata om Rahman dengan nada pelan
Aku masuk ke kamar dan ternyata benar kak ikbal lagi tidur, dan dia telanjang Cuma pake katok pendek.
Dengan Bahasa Madura aku bangunin kak ikbal “jhegheh-jhegeh siang la se ngakanna can bapak en”.
Kak ikbal pun bangun dan kaget karna ada aku dikamarnya. “bede apa lek, mak bhuruna dennak yangsiang”. Jawabku langsung “enjek ghun ngabele’eh deghik bede sonnatdhen e roma”
Dia langsung ketakutan yang mukanya kisut ada bekas bantal di pipi langsung lari keluar “tidak-tidak aku tidak mau sunnatttttt!!!”
Aku hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian ada kak Apik adiknya kak Herol main ke rumah kak ikbal.
Saat aku dan kak ikbal masih asik bermain kelereng kak Apik menghampiri kami “Bal, Ton, nanti jadi sunnat ?”
“iya – enggak” jawabku dan kak ikbal serempak
“loh gimana sih kok gak kompak, kak herol udah siapin peralatan untuk sunnatan kalian” kata kak apik

Muka kak ikbal jadi semakin ketakutan, aku jadi heran kenapa takut untuk sunnat padahal dapat pahala. Saking polosnya diri ini. Kak ikbal pun mulai malas main karena kalah terus dan takut disunnat. Aku pun pulang ke rumah.

Sekitar jam 3 sore, kak apik datang lagi ke rumah kak ikbal untuk menjemputnya sunnatan di rumahku. Disana kak apik tidak menemukan kak ikbal di kamar, di WC, di dapur dia menghilang saking takutnya. Akhirnya aku juga ikut mencari, biasanya kalo main petak umpet dia sembunyi diatas pohon manga dibelakang rumahnya. Ternyata memang benar dia ada diatas sambil menangis. Aku pun memanggil kak apik untuk menyuruh dia turun. Tapi hasilnya kak ikbal malah kabur dan disitu kita main kejar-kejaran. Semua kecapean, akhirnya kak ikbal terangkap juga oleh bapaknya. Dia langsung dibawa ke rumahku.

Sesampai di rumah semua orang berkumpul dan juga kak herol sudah siap dengan baju putih dan gunting-gunting. Lalu ditanya oleh ibu siapa yang mau sunnat duluan. “aku buk, ini toh sunnat baru tahu hehe” jawabku dengan nada tinggi ke rendah.

Aku buka celana dan ahhhh rasanya sakittttttt kayak di gigit ayam dan di patok semut. Wow itu salah satu  momen paling tak terlupakan dalam sejarah hidupku. Yang awalnya mikir sunnat itu enak ternyata tidak cocokkkk tidak tidak tidak. Aku nangis sampai mata bengkak seluruh badan diikat tidak bisa bergerak. Al hasil lama sekali sembuhnya. Tapi yang aku seneng kak ikbal juga nangis haha rasain untung aku ajak dia. Hikmahnya adalah untuk mengerjakan sesuatu kita perlu rasa senang terlebih dahulu untuk hasilnya serahkan sama Tuhan. Yakin aja mengerjakan sesuatu yang baik pasti dapat imbalan pahala meskipun itu tidak didunia.

Comments

Popular posts from this blog

Anak Kecil

Hari ini aku lewati dengan bermain seharian bersama kawan-kawan karena libur weekend. Permainan yang biasa anak kecil mainkan dulu adalah jual-jualan/masak-masakan atau bahasa maduranya weljhuelen. Sengaja aku tulis miring biar keliatan keren kayak bahasa asing haha. Cukup aneh kedengerennya tapi memang itu permaianan yang sangat menyenangkan. Sebelumnya aku kenalin dulu kawan-kawanku, tapi pake nama samaran sebut saja ikbal, firda, toni, dan arul. 😎😎😎 Ilustrasi dari  iyakan.com Cara untuk main weljhuelen yaitu kita  membentuk anggota keluarga yang dipilih dengan tidak demoktratis. Asal mau ayok sudah kayak pejabat parlemen asal ada duit ayok, jangan serius ya bercanda. Nah kalo sudah punya partner atau rekan, kita mulai cari bahan untuk diolah dan dimasak. Kayak misalnya ambil batu bata putih atau genteng bekas untuk dibuat nasi. Saat itu yang jadi suami istri adalah ikbal dan toni, mereka sama-sama cowo tapi jadi keluarga. Kalo dipikir-pikir kita secara tidak sa...

Sekolah Baru

Malam hari itu terasa dingin, kaki tangan seluruh badan rasanya kaku sampai ke tulang-tulang. Sakit bekas sunnat masih terasa, dikompres menggunakan air hangat yang dibuat oleh ibu. Tak pernah ku lupa masa-masa itu, dimana aku yang kecil, manja, culun dan sangat polos. Subuh jam 5 pagi aku bangun dari kasur, dengan muka lecek aku langsung ke kamar mandi dan ambil wudhu. Melihat fajar aku terkejut begitu indahnya, dibelakang kamar mandi tampak awan dan langit kuning kemerahan membentuk gunung dan taman-taman. Aku terdiam sejenak, tiba-tiba ada yang menepuk dari belakang dan berkata “Nak, ayo mandi dan siap-siap berangkat sekolah” dengan cepat ternyata ibuk masuk ke dapur. Pagi itu aku langsung bergegas untuk sekolah. Aku yang masih dibalut keranjang bekas untuk melindungi tit*t yang belum sembuh dari sunnat untuk pergi ke sekolah. Disana lagi ada lomba cerdas cermat yang merupakan kegiatan tahunan yang diadakan sekolah tiap akhir tahun. Ternyata aku beruntung dan menang dilo...