Hari
ini aku lewati dengan bermain seharian bersama kawan-kawan karena libur weekend.
Permainan yang biasa anak kecil mainkan dulu adalah jual-jualan/masak-masakan
atau bahasa maduranya weljhuelen. Sengaja aku tulis miring biar keliatan
keren kayak bahasa asing haha. Cukup aneh kedengerennya tapi memang itu
permaianan yang sangat menyenangkan. Sebelumnya aku kenalin dulu kawan-kawanku,
tapi pake nama samaran sebut saja ikbal, firda, toni, dan arul. 😎😎😎
![]() |
| Ilustrasi dari iyakan.com |
Cara untuk main
weljhuelen yaitu kita membentuk anggota keluarga yang dipilih dengan tidak
demoktratis. Asal mau ayok sudah kayak pejabat parlemen asal ada duit ayok,
jangan serius ya bercanda. Nah kalo sudah punya partner atau rekan, kita
mulai cari bahan untuk diolah dan dimasak. Kayak misalnya ambil batu bata putih
atau genteng bekas untuk dibuat nasi. Saat itu yang jadi suami istri adalah
ikbal dan toni, mereka sama-sama cowo tapi jadi keluarga. Kalo dipikir-pikir
kita secara tidak sadar melakukan LGBT yah gapapa itu kan masih anak-anak.
Sedangkan yang lain; aku, firda, dan arul jadi pembeli dengan bayarnya pake daun.
Situasi
lagi disebuah pasar tradisional yang sangat ramai pengunjung, kebetulan aku,
arul, dan firda lewat didepan pedagang nasi pecel yang tampak tidak ada
pembeli. Dari hati kecilku muncul rasa iba melihat dua sosok laki-laki duduk
dan menatap dagangan yang tak kunjung laku.
“hai
mas kak” tanyaku kepada penjual dengan senyum.
“baik
alhamdulillah” jawab si penjual serentak.
Tanya
firda ke aku dengan polosnya “kak ton ? mau makan nasi pecel ?”
“ma
a u mau ayo” jawab aku spontan.
“aku
juga lapar mau makan !! ” kata si arul dengan semangatnya.
Wajah
si penjual itu langsung sumringah, alis yang mengkerut jadi melengkung kebawah
mendengar obrolan kami. Lalu kami memesan tiga nasi pecel dan lauk yang beda.
Aku minta telor dadar, sedangkan firda dan arul minta ayam goreng. Si penjual
dengan semangatnya langsung menyajikan masakannya. Ternyata nasi pecel tadi
yang terbuat dari batu bata putih dan genteng bekas. Telor dadar diganti dau
pisang yang sudah tua alias kuning kering. Sedangkan ayam goreng diganti dengan
tangkai pohon mangga yang sudah kering. Karena sudah terlanjur pesan maka kami
pun memakan nasi pecel itu lewat pinggir pipi yang berlawanan dengan pandangan
si penjual dan dijatuhkan ketanah. Setelah kenyang kami pun membayar uang nasi
pecel itu.
Tanya
firda ke penjual nasi pecel “berapa mas semua ? sama minum tiga es susu”
Penjual
menjawab dengan senyum malu-malu “seratus lima puluh ribu rupiah”
“APA!!!”
respon arul kaget sampe es susu nya tumpah.
Kata
ku menjawab dengan santai “Ini mas, biar aku yang bayar kembaliannya ambil
saja” bayar pake daun mangga tiga lembar.
Si
penjual pun sangat senang sampe terbang ke langit ketujuh saat aku bilang kembaliannya
ambil saja.
Selesai
dari situ kami pulang dengan tertawa lebar terbahak-bahak.
Kangen
gitu rasanya jadi anak kecil yang gak pernah sedih dan berteman tanpa saling
menjatuhkan. Tapi mau gimana pun kita harus jadi orang dewasa, hidup itu memang
pilihan tapi dewasa itu tuntutan. Anak kecil sekarang beda dengan dulu yang
polos, sekarang anak kecil baru umur dua hari udah bisa main Android. Ini aneh
ya tapi ada, orang tua harus lebih rajin mendidik anaknya agar tidak menyimpang
ke jalan setan.
Sekarang semua orang bisa mengakses apapun yang dia pengen. Sosial media seperti youtube, facebook, dan mbah google mulai jadi kebutuhan primer. Bukan lagi sandang, pangan, dan papan yang jadi kebutuhan primer, handphone & internet juga termasuk. Seakan-akan kita mati kalo gak megang hp sehari. Pesan dari tulisan ini jaga masa kecilmu untuk kamu ceritan saat kamu tumbuh dewasa ke anak cucumu.
Sekarang semua orang bisa mengakses apapun yang dia pengen. Sosial media seperti youtube, facebook, dan mbah google mulai jadi kebutuhan primer. Bukan lagi sandang, pangan, dan papan yang jadi kebutuhan primer, handphone & internet juga termasuk. Seakan-akan kita mati kalo gak megang hp sehari. Pesan dari tulisan ini jaga masa kecilmu untuk kamu ceritan saat kamu tumbuh dewasa ke anak cucumu.

Comments
Post a Comment